mengubah bahasa diam menjadi bahasa bicara

MENGUBAH BUDAYA DIAM MENJADI BUDAYA BICARA

            Kata budaya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pikiran, akal budi atau adat istiadat. Secara tata bahasa kebudayaan diturunkan dari kata  budaya yang cenderung menunjuk pada pola pikir manusia. Sedangkan definisi budaya menurut Wikipedia adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Lain halnya dengan pendapat para ahli, menurut Koentjaraningrat Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dan menurut Mitchell (Dictionary of Soriblogy) Kebudayaan adalah sebagian perulangan keseluruhan tindakan atau aktivitas manusia dan produk yang dihasilkan manusia yang telah memasyarakat secara sosial dan bukan sekedar dialihkan secara genetikal. Dari beberapa pengertian budaya diatas dapat ditarik simpulan bahwa budaya merupakan akal budi, pikiran, dan adat istiadat yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Diam, menurut orang-orang bijak kata ini memiliki banyak makna, bisa makna positif maupun makna negatif. Ditinjau dari sisi negatif makna diam bisa berarti marah, kecewa, ataupun putus asa. Namun, disisi positifnya diam bisa juga menjadi jalan terakhir untuk bersuara ketika berkata tidak lagi bermakna. Namun, makna diam dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tidak bersuara (tidak berbicara), tidak berbuat (tidak berusaha apa-apa), dan tidak bergerak (tetap ditempat). Dari definisi budaya dan diam dapat disimpulkan bahwa budaya diam adalah akal, pikiran, dan kebiasaan seseorang ataupun sekelompok orang untuk tidak berbicara, tidak berbuat, ataupun tidak bergerak.

Pada kenyataannya diam  berasal dari beberapa faktor, yaitu diam yang berasal dari kepribadian yang pendiam. Karena jika ditinjau dari teori behavioristik, tingkah laku awal dibentuk dengan pengkondisian lingkungan (conditioning) lalu, pembiasaan sehari-hari (habit), kemudian berubah menjadi traits (sifat), dan jika sudah mendarah daging atau terinternalisasi maka sifat itu berubah menjadi kepribadian (personality). Diam yang seperti ini biasanya disebut dengan diam dari lahir, karena sejak kecil orang tersebut sudah menjadi seseorang yang pendiam. kemudian, diam dapat  berasal dari penafsiran yang kurang tepat terhadap suatu obyek lalu, penafsiran itu seringkali diulang-ulangi pada obyek yang berbeda-beda tetapi dengan perlakuan yang sama. Misalnya, saya berpikir bahwa saya akan dipermalukan ketika saya salah dalam mengeluarkan pendapat, sehingga saya lebih memilih untuk diam walaupun terdapat banyak ide-ide dalam pikiran saya. selain itu, pengalaman-pengalaman masa lalu juga demikian berpengaruh menjadikan seseorang pendiam. Contohnya orang yang mengeluarkan pendapat, tetapi pendapatnya pernah diabaikan. Hal ini membuat orang tersebut trauma dan takut untuk berpendapat, sehingga ia akan pasif dalam rapat, diskusi, ataupun organisasi yang diikutinya.

Dalam kehidupan sehari-hari, pandangan seseorang terhadap orang yang pendiam pun beragam. Sebagian orang senang dengan orang yang pendiam. Contohnya saja guru, guru lebih senang dengan murid yang pendiam. Mereka  menilai murid yang pendiam lebih baik daripada murid yang ribut. Tidak jarang guru-guru menganggap murid yang pendiam adalah murid yang pintar. Selain itu, ada beberapa orang juga yang lebih menyukai mempunyai sahabat yang pendiam. Mereka lebih nyaman untuk bercerita dengan orang yang pendiam. Karena menurut mereka, orang yang pendiam lebih bisa dipercaya untuk menyimpan rahasia pribadi mereka. Tidak heran jika orang pendiam biasanya menjadi pendengar yang baik bagi teman-temannya yang sedang galau.

Di sisi lainnya, Banyak orang menganggap orang diam itu penuh dengan masalah. Orang diam dianggap tidak dapat bersosialisasi dengan baik, susah bergaul, tidak dapat berbicara (sulit berkomunikasi), dan pemalu. Penilaian seperti ini dapat disebabkan karena orang tidak mengetahui apa maksud dan keinginan dari orang yang pendiam. Karena orang yang pendiam tidak pernah menyampaikan apa yang mereka inginkan, sehingga sering terjadi kesalahpahaman dengan orang yang pendiam. Tidak dapat dimungkiri bahwa orang akan menilai orang pendiam itu tidak asyik dan membosankan. Jika mencoba membuka obrolan dengan orang pendiam akan tercipta suasana yang kaku dan tak bersahabat. Kejadian ini akan menimbulkan istilah “mati gaya”. Sehingga, tak sedikit orang yang menjauhi orang yang pendiam. Orang pendiam juga  kerap dijuluki sebagai orang yang “kuper” atau kurang pergaulan. Sifat mereka yang diam dan jarang berkomunikasi dengan orang membuat memiliki tidak memiliki banyak teman layaknya orang yang suka berbicara. Tak jarang orang yang pendiam menjadi korban kejahilan bagi teman-temannya.

Berbedanya prinsip, persepsi, suasana dan kondisi membuat kita harus sadar untuk melakukan sesuatu dengan berbicara atau diam. Namun banyak orang terkadang malah berdiam diri saat dia seharusnya berbicara. Begitu juga sebaliknya, banyak orang yang berbicara padahal dia seharusnya diam. Seperti yang kita ketahui bahwa ada istilah yang mengatakan bahwa “diam itu emas”. Namun, apakah semua diam itu emas ? jika tidak, lantas diam yang seperti apa yang disebut dengan emas ? dan mengapa hal itu bisa terjadi ?

Berikut ini terdapat beberapa kondisi dimana diam bernilai layaknya emas. Pertama, diam ketika dinasehati. Karena tujuan dari nasehat itu sendiri adalah membuat kita menjadi lebih baik, menyadadarkan kita agar kita berprilaku positif, dan sebagai wujud rasa sayang seseorang terhadap kita, maka tidak ada salahnya jika kita seharusnya diam saat dinasihati orang lain.

Kedua, diam ketika banyak orang tidak sedang ingin mendengar suara. Manusia diciptakan memiliki karakter dan kepribadian yang berbeda-beda. Beberapa orang senang dengan suasana yang ramai, tetapi sebagiannya lagi lebih menyukai suasana yang sepi. Maka dari itu, kita harus bisa dengan cermat menyikapi situasi ini. Jika ada seseorang yang tidak ingin situasi disekitarnya ramai, kita harus menghargai itu. Dan kita harus bertoleransi dengan cara tidak membuat keramaian (diam).

Ketiga, Diam ketika orang lain sedang sibuk membicarakan aib oranga lain. Mengapa kita harus diam ketika  orang lain sedang membicarakan aib orang lain ?  karena seseorang   sedang menceritakan keburukan orang lain dan akhirnya membuat orang yang dibincangkan tersebut malu. Kita sebagai manusia seharusnya sadar bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Dibalik kelebihan yang kita miliki masih terdapat banyak kekurangan. Jadi, jika kita tidak mau tergolong dalam kelompok yang egois dan sombong, alangkah lebih baiknya jika kita diam ketika orang lain sedang sibuk membicarakan aib orang lain.

Keempat, Diam ketika kita dikritik orang lain. Kritik merupakan tanggapan yang diberikan seseorang kepada kita terhadap hasil karya, pendapat, argumen, dan lain sebagainya, ketika kita mendapatkan kritik, ada baiknya jika kita diam dan memahami maksud kritikan orang terhadap kita. Karena kritik merupakan salah satu jalan untuk kita memperbaiki diri.

Kondisi-kondisi diatas memang menjadikan diam layaknya emas. Namun, apakah kita harus berdiam diri saja untuk lebih bernilai ? Tidak bukan, karena ada hal yang sebenarnya lebih tinggi nilainya daripada sebuah emas, yaitu berlian. Lantas, kapan kita bisa berprilaku layaknya berlian ?

Kita dapat berprilaku layaknya berlian ketika kita berbicara. Namun, bukan asal bicara. Ada saat-saat tertentu yang bisa menjadikan kita bernilai layaknya berlian. Contohnya, berbicara ketika lingkungan sekitar kita membutuhkan solusi. Ketika sedang terjadi suatu permasalahan, baik permasalahan keluarga, teman, ataupun permasalahan yang terjadi di masyarakat, alangkah lebih baiknya kita mengeluargan pendapat-pendapat yang merupakan solusi dari permasalahan yang mereka alami.

Selain itu, kita dapat berbicara ketika lingkungan disekitar kita sedang tidak ramah antar perorangannya. Setiap manusia pasti pernah mengalami perbedaan antara satu dan lainnya. Hal ini dapat mengakibatkan perselisihan antar sesama manusia. Dalam kondisi inilah kita bertugas mencairkan suasana orang-orang yang sedang berselisih antar satu sama lainnya.

Kita juga dapat berbicara ketika teman ataupun saudara kita sedang dilanda duka. Di dunia ini, tidak ada yang pernah tahu kapan musibah akan terjadi dan siapa yang akan menerima musiba tersebut. Musibah bisa saja terjadi sekarang dan diberikan kepada orang-orang disekitar kita.  Pada saat musibah itu sedang melanda mereka, mereka membutuhkan seseorang yang dapat menghibur mereka. Inilah saatnya kita bebicara untuk  memberikan semangat kepada mereka agar rasa sedih yangmerekan rasakan sedikit terobati.

Disamping itu, kita juga dapat berbicara ketika banyak orang mengeluh. Dalam kehidupan sehari-hari, akan terjadi beberapa masalah. Mulai dari masalah yang sederhana sampai dengan masalah yang rumit. Semakin hari semakin sulit saja memecahkan masalah-masalah yang terjadi. Hal ini mengakibatkan kebanyakan masyarakat mengeluh dengan masalah yang mereka alami. Mereka menjengkelkan semua masalah yang terjadi dengan mereka. Disaat yang seperti ini, mereka membutuhkan seorang pembicara yang bertindak sebagai motivator. Motivator ini bertugas memberikaan nasihat-nasihat yang dapat membuat mereka sadar dan bersyukur dengan apa yang terjadi dengan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s